This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 07 Januari 2013

der Makassarisch Ausdruck / ungkapan bahasa makassar

 contoh kata atau ungkapan dalam bahasa Makassar dalam huruf Latin:
Versi Bahasa Makassar Versi Latin Arti
ᨅᨒ Balla' Rumah
ᨅᨘᨒᨘ Bulu' Bulu/Rambut
ᨅᨅ Bambang Hangat/Panas
ᨌᨗᨄᨘᨑᨘ Cipuru' Lapar
ᨉᨚᨙᨕ Doe' Uang
ᨕᨗᨐᨚ Iyo' Iya
ᨒᨚᨄᨚ Lompo Besar
ᨔᨒᨚ Sallo Lama (untuk waktu)
ᨈᨙᨅ Tabe' Permisi
ᨙᨈᨊ Tena Tidak Ada
ᨙᨈ ᨊᨈᨈ Mata Allo Mata Hari
  • jappa-jappa = jalan-jalan;
  • lompo = besar;
  • sallo = lama;
  • tabe' = permisi;
  • tena = tidak;
  • karaeng = raja;
  • apa kareba? = apa kabar?;
  • lakéko mae? = mau ke mana?;
  • battu kémae ko? = dari mana?
  • motere` = Pulang
  • nganre = makan
  • jarang = kuda
  • botto' = berbau busuk
  • bembe' = kambing
  • nakku' = rindu
  • tinro = tidur
  • mempo = duduk
  • menteng = berdiri
  • cini' = lihat
  • tamparang = laut
  • battu = datang, tiba
  • mingka = tetapi
  • anjo = itu
  • anne = ini

Orang Jerman Putih Mau Jadi Gosong, Orang Indonesia Gosong Mau Jadi Putih


Ada dua cerita yang mengilhami tulisan saya kali ini. Pertama saat anak kos saya yang tiba-tiba meminta sebuah tikar untuk nglekar (red: berbaring) di kebun kami yang luas. Bikini bintik-bintik barunya nampak seksi membalut tubuhnya yang kencling putih memplak (red: mulus nan bersinar). Untung saja hari itu kampung lagi sepi, apalagi kebun kami amat terlindungi oleh pagar tinggi dan pohon-pohon tua. Ia bersumpah kepada keluarganya di Hungaria untuk menjadi gosong selama berada di tanah Jerman. Heee …
Yang kedua adalah dari jantung hati saya. Sepulang dari kantor, suami saya tersenyum manis. Ia bangga dikagumi teman-teman di kantornya. Katanya lagi mereka iri, kulit suami saya yang ganteng sedunia itu sangat apik. Orang pabrik menuduh suami saya mandi matahari di salon. Padahal sejak bulan Mei, kami bekerja keras membangun taman batu di kebun depan dan belakang rumah. Sengatan matahari tak memberi ampun pada kami bukan dari solar buatan. That’s it.
Memang di Jerman, biasanya nge-trend jika kulit berwarna coklat matang. Tetapi nyatanya karena pigmennya berbeda, setelah berjemur, orang-orang Caucasia biasanya justru berwarna merah. Sangat jarang orang Jerman berkulit putih yang saya kenal, bisa secoklat orang Indonesia. Jika ada bisa dihitung dengan jari; seorang lelaki tetangga gang sebelah yang memiliki peternakan hewan, seorang wanita sebelah yang langganan solarium dan seorang nenek dari gang bawah yang sering bertamasya ke Turki. Bingo!
Saya maklum akan kegilaan mereka akan matahari. Jerman memiliki empat musim sehingga matahari tak selalu ceria bersinar seperti di Indonesia. Bulan Juni hingga Agustus nanti biasanya orang Jerman lebih banyak menuju Bodensee, Nordsee atau ke pantai di luar negeri seperti Spanyol, Italia, Afrika, Malta dan lainnya untuk sekedar berjemur sepanjang hari. Tekat mereka mengejar panas matahari memang tanpa ampun. Keinginan mereka untuk berkulit gelap memang bak mencari harta karun.
Sementara untuk musim gugur, musim semi dan musim salju dimana matahari tidak sekuat musim panas, orang Jerman biasa memanfaatkan salon-salon yang digelar dikota-kota misalnya Tuttlingen, Spaichingen, Rottweil atau Stuttgart. Biasanya pelanggan ditarik 5 euro per jam.
Salah seorang tetangga saya telah melakukannya selama bertahun-tahun. Perempuan berambut blonde itu sangat ketagihan. Ibu beranak tiga itu juga berhasil membuat warna kulitnya benar-benar sawo matang. Saya tidak tahu, apakah bintik-bintik hitam dikulit wanita berumur 55 tahun itu efek dari penyinaran salon ataukah proses penuaan. Yang jelas, ia amat puas dan berhasil merayu para tetangga dan teman-temannya untuk berbondong-bondong ke solarium, mandi matahari palsu. Wuih!
Nah, kalau orang Jerman saja mau gosong, orang Indonesia banyak yang berlomba-lomba ke salon untuk pemutihan. Berapapun biayanya banyak orang tak perduli. Segala pelindung dari topi sampai payung digunakan pula sebagai penangkal sinar matahari. Mulai dari dokter kulit A sampai Z, dari yang ecek-ecek (red: amatiran) sampai professional semua ada dalam daftar kebanyakan para wanita tanah air kenalan saya.
Seorang teman kuliah saya dahulu bahkan amat ketagihan dengan krim pemutih dari seorang dokter di Semarang. Sekali saja ia lupa mengoleskan di kulit, ia seperti wartawan tanpa pena. Wanita manis itu tak ragu merogoh kantong untuk membayar krim ratusan ribu. Ia tak peduli pola makannya terganggu, yang penting keinginannya agar badan putih mulus tercapai.
Sejujurnya, saya tidak suka kulit saya gosong, meskipun demikian saya sangat segan dan berpikir dua belas kali untuk mencoba membuat kulit lebih putih dengan sebuah teknologi atau kosmetika. Hiyyy, takut kalau ada yang salah. Untung dokter setempat disini menyatakan saya bebas kanker kulit (di Jerman usia 35 tahun dianjurkan untuk cek Haut Krebs secara mandiri). Dahulu, beberapa perawatan yang sering saya lakukan dirumah adalah luluran. Kulit saya sudah terbebani dengan timbunan kosmetika seperti bedak, lipstick, warna-warni blush on, eye shadow dan lainnya. That’s enough for me, isn’t it? Toh air wudlu sering membersihkan kulit muka saya, jadi sedikit terbantu.
Satu hal yang selalu saya ingat di kepala ini saat suami saya berkata, “Du bist so schön, schon braun und ohne ‘Malen’ (red: Schminken) ist besser … am meisten wenn du am Morgen aufgestanden bist, du bist richtig hübsch …“ (red: Kamu sudah cantik alami, tak perlu make up. Kamu paling cantik kalau bangun dari tidur. Apalagi kulit kamu sudah coklat nan eksotik). Istri mana yang tidak bangga dan senang dipuji terus oleh suaminya seperti ini? Bisa klepek-klepek saya (red: mati kutu).
Terlepas dari mau jadi gosong atau mau jadi putih itu memang hak masing-masing pribadi. Asal berhati-hati dan tahu resikonya karena masing-masing usaha dari keduanya menimbulkan efek samping yang wallahu’alam. Black or white? It is just about a color. Think twice when we will decide it.

http://lifestyle.kompasiana.com

Bergaul dengan Orang Jerman


Sudah bukan rahasia umum lagi kalau orang Jerman tidak mudah berteman dengan orang asing. Bahkan beberapa guru kami di Goethe-Institut tidak sekali dua kali mengingatkan agar berteman sebanyak-banyaknya dengan orang Jerman agar bahasa Jerman kita semakin mahir. Akan tetapi banyak mahasiswa Indonesia di Jerman lebih nyaman bergaul dengan sesama orang Indonesia daripada bergaul dengan bule Jerman.

Sebenarnya bukan salah mereka sepenuhnya kalo mereka seperti itu. Permasalahnnya adalah karakter orang Jerman mempunyai area privasi yang sangat tinggi sehingga mereka “butuh waktu” untuk bisa menerima kita sebagai orang baru. Bukannya mereka sombong dan arogan atau tertutup tetapi mereka mempunyai garis khayal yang membatasi orang baru untuk masuk dalam kehidupan mereka. Walaupun kita tidak bisa melihat garis itu tetapi bagi beberapa orang yang paham benar prinsip ini pasti mengerti batasan-batasannya. Jika dibandingkan dengan orang Indonesia, garis khayal ini sangat besar sehingga kita perlu waktu untuk penetrasi ke area pertemanan mereka. Jika orang Indonesia baru pertama berkenalan sangat mungkin sekali kita bisa menyebut mereka teman kita. Di Jerman kita tidak bisa semudah itu dianggap teman oleh mereka.

Suatu contoh adalah ketika pesta. Jangan pernah berharap kita bisa ikut ke acara pesta salah seorang teman Jerman yang baru sekali bertemu atau berkenalan. Mereka sangat membatasi jumlah teman yang hadir di acara ini. mereka yang diundang adalah mereka yang sangat akrab dengan si bule Jerman. Tapi di kultur Indonesia kita bisa sangat mudah hadir di acara teman dari teman kita dan dapat diterima walaupun kita akan berkenalan disana untuk pertama kali. Kesimpulannya adalah penerimaan orang Indonesia lebih besar jika dibandingkan dengan si Jerman.

Karakter orang Jerman sangat kental dengan kepribadian yang cenderung aktif pada orientasi tugas bukan berorientasi pada relasi manusia. Beberapa orang Jerman pernah bilang bahwa mereka (orang Jerman) terlalu fokus sama pekerjaan mereka dan membuat mereka sangat kaku. Dan ini sangat bertolak belakang dengan karakter asli orang Indonesia yang dari Sabang sampai Merauke sangat ramah dan peduli dengan sesama. Dan poin ketiga ini yang menjadikan kami para WNI dan Mahasiswa Indonesia di Jerman beberapa sangat kesulitan untuk bergaul dengan mereka. Dari sisi orientasi sudah bisa dibayangkan bagaimana masing-masing dari kita jika bertemu dan berbicara dengan mereka. Terkadang saya merasa tidak nyambung berbicara sama mereka, dan akhirnya kami lebih nyaman bergaul sesama orang Indonesia disini daripada dengan orang Jerman.

Orang Jerman juga terkesan sangat galak bagi beberapa teman yang masig baru datang disini. Sedikit senyum dan nada bicara yang tinggi dan tegas. Beberapa mereka juga punya tidak mempunyai selera humor tinggi jika dibandingkan dengan kita. Jadi cara bercanda mereka terkadang sangat “garing” di telinga orang Indonesia walaupun bahasa Jerman kita sudah cukup mahir. Hal-hal tidak penting dan tidak lucu bisa jadi bahan bercanda mereka. Dan mereka tertawa sangat berbeda dengan orang Indonesia yang bisa sampai terpingkal-pingkal bahan muka merah dan perut pegal karena tertawa. Untuk bisa sampai tahapan ini mereka perlu yang namanya pencair suasana atau “air kedamaian” bir untuk mencairkan suasana. Dan jika mereka sampai tahapan ini terkadang mereka sangat mengganggu dan tidak menyenangkan bagi kita.

Terus bagaimana caranya menggauli orang Jerman???

http://jermandes.wordpress.com

Minggu, 06 Januari 2013

Tomaten Suppe rezept


Tomatensuppe kochen - Sie denken sicher, da ist doch nichts dabei, das kann doch jeder? Mag sein. Aber wenn vier Leute Tomatensuppe kochen, schmeckt keine wie die andere: Die eine Tomatensuppe ist mit Knoblauch, die andere mit Speck, in der dritten steckt Sellerie und in der vierten womöglich Brühepulver. Sie mögen es lieber pur? Dann kosten Sie unser BRIGITTE-Rezept fürs Leben: eine Tomatensuppe aus vielen frischen, sonnengereiften Tomaten. Wir sind überzeugt: Von dieser Tomatensuppe werden Sie begeistert sein!


Zutaten für 4 Portionen Tomatensuppe

Suppe: 2 kg kleine Roma-Tomaten, 6 Zweige Thymian, 2 Zwiebeln, 30 g Butter, 2 EL Tomatenmark, Meersalz, frisch gemahlener Pfeffer, 1 Prise Zucker
Croûtons: 3-4 Scheiben Toastbrot, 3 EL Olivenöl; 150 g Schlagsahne

Tomatensuppe zubereiten


Tomaten abspülen, die Stielansätze entfernen und das Fruchtfleisch in Stücke schneiden. Thymianstiele kurz unter kaltem Wasser abspülen und auf Küchenkrepp trocknen lassen. Zwiebeln abziehen, halbieren und fein würfeln. Die Butter in einem Topf schmelzen und Zwiebelwürfel darin glasig dünsten. Tomatenstücke und Tomatenmark dazugeben, kurz mitdünsten und salzen.

http://www.brigitte.de





Jumat, 04 Januari 2013

Die Weihnachtszeit: Eine Zusammenfassung




                                                                                     
Die Vorweihnachtszeit

Weihnachten ist für die Deutschen das wichtigste Fest des Jahres, an dem die ganze Familie zusammenkommt. Die Vorweihnachtszeit entspricht den vier Wochen vor dem heiligen Abend und beginnt mit dem ersten Advent, dem ersten Sonntag im Dezember. Die Wohnung wird weihnachtlich mit Tannenzweigen, Weihnachtsschmuck und Kerzen dekoriert. Auf dem Tisch wird der Adventskranz, ein Kranz aus Tannenzweigen mit vier Kerzen, aufgestellt.
                                 
Klassisch: Der Adventskranz
An jedem Sonntag im Advent wird eine Kerze angezündet. Die Kinder bekommen einen Adventskalender, an dem sich 24 Türen oder kleine Säckchen befinden. jeden Tag bis Weihnachten dürfen die Kinder ein Türchen oder Säckchen öffnen. In der Adventszeit schreiben die Kinder außerdem ihren Wunschzettel für Weihnachten.




             
Gemütlichkeit bei Kerzenschein: Adventszeit in Deutschland
An den Adventssonntagen findet man sich häufig zusammen, um warme Getränke (z.B. Punsch, Tee, Kakao) zu trinken, Kekse, Lebkuchen und Stollen zu essen und um den Kindern Weihnachtsgeschichten vorzulesen. Diesen Brauch gibt es etwas seit Beginn des 20. Jahrhunderts (mehr zur Weihnachtsbäckerei, Vorweihnachtszeit).

Nikolaus

Die Weihnachtszeit bietet den Kindern aber noch mehr „aufregendes“: Am Abend des 5.12. stellen die Kinder ihre frischgeputzten Stiefel vor die Tür oder vor den Kamin und warten auf den heiligen Nikolaus, der in der Nacht die Stiefel mit Süßigkeiten und Früchten füllt. In einigen Gegenden wird der Nikolaus noch von Knecht Ruprecht begleitet, der mit seiner Rute unartige Kinder bestraft. mehr...
Weihnachstmärkte

Auch die traditionellen Weihnachtsmärkte öffnen mit der Adventszeit ihre Tore. An den zahlreichen lichtgeschmückten Ständen werden Christbaumschmuck, Kerzen, Glühwein und allerlei andere Weihnachtsspezialitäten angeboten. Weihnachts- oder Christkindlesmärkte gibt es seit dem 14. Jahrhundert. Um ihre Waren auch vor Weihnachten verkaufen zu können, kamen einst Handwerker und Zuckerbäcker auf die Idee, auf den Marktplätzen Stände mit ihren Waren zu errichten. Dieser Brauch verbreitete sich schnell und um mehr Marktbesucher anzulocken, wurden geröstete Mandeln, Kastanien und Nüsse angeboten. ...mehr
                                      
Anfang Dezember: Weihnachtsmärkte und Nikolaus
Vorbereitung auf Weihnachten
Da früher die Vorweihnachtszeit eine sehr stille Zeit war, in der die Bauern auf den Feldern auf Grund des Wetters sowie der dunklen Jahreszeit, nicht arbeiten konnten, mussten sie die Zeit irgendwie überbrücken. Aus dieser Situation sind eine Vielzahl an Bräuchen herausgegangen, die zum Teil bis heute, jedoch vorwiegend von den Frauen, gepflegt werden. ...mehr




Gehört zur Vorweihnachtszeit: Plätzchenbacken & Knusperhäuschen


Weihnachten

Spätestens an den Tagen vor Heiligabend wird der Christbaum (oder auch Weihnachtsbaum) geschmückt. Die Tradition stammt etwas aus dem 17. Jahrhundert. Als Baum wird eine Tanne oder Fichte ausgewählt, die als immergrüner Baum ein Zeichen für Leben und Hoffnung. Der Baum wird je nach Geschmack mit Kerzen, Christbaumkugeln, Lametta oder Holzspielzeug geschmückt. Traditionell wurde der Baum auch mit Äpfeln und Süßigkeiten behangen.
                                          
Kein Weihnachten ohne geschmückten Baum
Unter dem Christbaum wird eine Krippe aufgestellt, d.h. ein kleiner aus Holz nachgebildeter Stall, in dem das neugeborene Jesuskind mit seinen Eltern, den Hirten und den Tieren liegt. In Deutschland ist die Variation an Krippen sehr groß. In Kirchen werden auch große Krippen aufgebaut.

             
Die Weihnachtsgeschichte: Krippe (rechts eine Krippe der Augsburger Puppenkiste)
Am Heiligabend wird die Weihnachtsgeschichte vorgelesen oder aber von Kindern in der Kirche aufgeführt. Auch wenn viele Deutsche nicht mehr regelmäßig in die Kirche gehen, gehen sie meist doch noch an diesem einen Tag, um nach einem langen Jahr Ruhe zu finden und die weihnachtliche Stimmung zu genießen. Meist fällt auch erst mit dem Kirchgang der Stress der vielen Weihnachtsvorbereitungen und –einkäufe ab.
Am Abend isst man im Kreise der Familie und tauscht die Geschenke aus. Für Kinder schließt man jedoch oft das Wohnzimmer zunächst ab und lässt sie erst hinein, wenn die Kerzen am Baum entzündet und die Geschenke aufgebaut sind. Denn die Geschenke für die Kinder werden vom Christkind oder vom Weihnachtsmann gebracht.

Das Christkind , also das Jesuskind, wurde im 16. Jahrhundert von Martin Luther als Geschenkeüberbringer für die Kinder eingesetzt - als Ersatz für den heiligen Nikolaus, der früher in der Nacht zum 6. Dezember die Geschenke überbrachte. Der Geburtstag des Jesuskindes sollte fortan der Tag für den Austausch von Geschenken sein, da in der protestantischen Kirche die Anbetung von Heiligen verpönt ist. Doch wie man heute sieht, haben auch die Protestanten an der Tradition des Nikolausfestes festgehalten.

Der Weihnachtsmann ist wie Halloween ein Reimport aus Amerika, wo der durch europäische Einwanderer eingeführte Nikolaus zum Weihnachtsmann wurde. Viele Kinder in Deutschland wissen daher oftmals nicht mehr, dass der Nikolaus und der Weihnachtsmann eigentlich ein und dieselbe Person sind.
Die zwei Tage nach Heiligabend (25./26.12.) sind offizielle Feiertage und werden meist für Verwandtschaftsbesuche genutzt. Viele Deutsche nehmen sich auch die die Tage bis Silvester (31.12.) frei und fahren z.B. in den Skiurlaub.

Eine Besonderheit – die Erzgebirgische Weihnacht
Hinter diesem Begriff verbirgt sich kein spezielles Brauchtum, sondern wunderschöne Handwerkskunst für das Weihnachtsfest. Im 17. Jahrhundert haben sich Schnitzer und Drechsler dem Kunsthandwerk zugewandt und daraus entwickelte sich in Sachsen, Thüringen sowie im Erzgebirge diese einzigartige Holzschnitzkunst. Die bekanntesten Holzschnitzereien sind die reich dekorierten Deckenleuchter, Lichterbögen, Lichterengel und Lichterpyramiden. Letztere bestehen aus einem Turm mit mehreren Stockwerken, an denen Kerzen angebracht sind. Durch die aufsteigende Wärme der Kerzen beginnt sich die Pyramide zu drehen. Weltbekannt sind natürlich auch die Räuchermännchen und Nussknacker.



                                              
Räuchermännchen
  http://www.deutsche-lebensart.de/455.html                                          

"Alle Jahre wieder...": Advent und Weihnachten in Deutschland



Advent und Weihnachten. Dies ist für viele Menschen die schönste Zeit im Jahr. Überall auf der Welt wird sie gefeiert, wenn auch viele Bräuche in Europa ihren Anfang genommen haben. Wie diese Zeit in Deutschland gefeiert wird, möchten wir in diesem Artikel kurz beschreiben.

Advent: Jesus kommt bald wieder

Erfurter Weihnachtsmarkt(© Markus Birth / PIXELIO)
Erfurter Weihnachtsmarkt (© Markus Birth / PIXELIO ) vergrößern
In der Adventszeit bereiten wir uns auf Weihnachten vor. Das Wort "Advent" kommt aus der lateinischen Sprache und heißt "Ankunft". In dieser Zeit denken wir daran, daß Jesus Christus als Kind in diese Welt gekommen ist und daß er als HERR bald wiederkommen wird.

Zur Adventszeit sind die Straßen der Städte hell beleuchtet. Überall hängen Lichterketten und bunter Schmuck. In den Fenstern hängen Sterne und andere Figuren aus Papier. Und aus vielen Küchen kommt ein schöner Duft. Die Menschen fangen an, Weihnachtsplätzchen und besondere Weihnachtskuchen zu backen.

Viele Kinder haben auch einen Adventskalender. Für jeden der 24 Tage im Dezember bis zum Weihnachtstag findet man ein Stückchen Schokolade oder etwas anderes hinter kleinen Türen. Es gibt aber auch Adventskalender, die die Mütter oder größere Kinder selber machen und mit schönen Sachen, wie z. B. Nüssen, Obst, Schokolade und kleinem Spielzeug füllen. In alten Adventskalendern findet man noch hinter jedem Fenster eine biblische Verheißung, die auf den kommenden Christus hinweist.

In vielen Wohnungen findet man in diesen Wochen einen Adventskranz, aus grünen Tannenästen gebunden. Auf ihm stecken vier Kerzen. An jedem Sonntag im Advent wird eine neue Kerze angezündet. Wenn alle vier Kerzen brennen, dann ist es bald Weihnachten. Dazu singen die Kinder: "Advent, Advent, ein Lichtlein brennt, erst eins, dann zwei, dann drei, dann vier; dann steht das Christkind vor der Tür."
Noch ist Herbst nicht ganz entfloh'n,
Aber als Knecht Ruprecht schon
Kommt der Winter hergeschritten.
Und alsbald aus Schnees Mitten
Klingt des Schlittenglöckleins Ton.
Und was jüngst noch, fern und nah,
Bunt auf uns herniedersah,
Weiß sind Türme, Dächer, Zweige,
Und das Jahr geht auf die Neige;
Und das schönste Fest ist da.
Tag du der Geburt des Herrn,
Heute bist du uns noch fern,
Aber Tannen, Engel, Fahnen
Lassen uns den Tag schon ahnen,
Und wir sehen schon den Stern.
Theodor Fontane (1819 - 1898)

Nikolaus komm in unser Haus...

Nikolaus von Myra (Bild: Wikimedia Commons - Aleksa Petrov 1294 - Public Domain)
Nikolaus von Myra (Bild: Wikimedia Commons - Aleksa Petrov 1294 - Public Domain ) vergrößern
Am 6. Dezember feiert man in Deutschland den Nikolaustag, den Gedenktag für den Bischof Nikolaus von Myra, der im 4. Jahrhundert lebte und sich besonders um die Kinder gekümmert hat. Schon am Vorabend stellen die Mädchen und Jungen ihre Stiefel und Schuhe vor die Türe. Sie möchten, daß der Nikolaus sie mit Süßigkeiten und Obst füllt. Abends kommt dann auch manchmal der Nikolaus, angezogen mit einem weiten Mantel und einer Bischofsmütze, selber ins Haus, oder er geht durch die Stadt. Er hat immer eine Rute für die bösen Kinder bei sich und einen Sack voller kleiner Geschenke für die lieben Kinder. Aus einem großen Buch liest er ihnen vor, was sie für gute und böse Dinge getan haben, und er verteilt kleine Geschenke. Meistens aber bekommt jeder etwas. Manchmal wird der Nikolaus auch von einem Helfer begleitet, dem Knecht Ruprecht.
Erst im vorigen Jahrhundert kam die Tradition vom "Weihnachtsmann" auf, der die Weihnachtsgeschenke bringt. Dieser kommt ursprünglich aus Amerika, wo er "Santa Claus" genannt wird. In vielen Gegenden Deutschlands, besonders im Süden, werden die Geschenke an Weihnachten aber vom "Christkind" gebracht.
Von hohen Himmelsfernen
auf einem blauen Band
im Glanz von tausend Sternen
kam stilles Glück ins Land
und hat in dunklen Herzen
ein Lichtlein angesteckt,
hat Sorgen, Gram und Schmerzen
ganz leise zugedeckt.
Richard von Schaukal (1874-1942)

Weihnachten: Jesus ist geboren

Das Christkind und das Verteilen der Geschenke, die sogenannte "Bescherung", gehören zu Weihnachten. Seit dem 16. Jahrhundert gibt es diesen Brauch. Das Christkind schickte damals einen Beutel mit fünf Dingen ins Haus: Spielzeug, Süßigkeiten, einem Geldstück, einem Kleidungsstück und Sachen für die Schule. Erst als die Weihnachtsgeschenke immer zahlreicher wurden, legte man sie auf den sogenannten "Gabentisch".
Krippe, Nürnberger Christkindlesmarkt(© Helga / PIXELIO)
Krippe, Nürnberger Christkindlesmarkt (© Helga / PIXELIO ) vergrößern
Im Mittelpunkt des Gabentisches steht heute ein Tannenbaum mit leuchtenden Kerzen und bunten Kugeln. Kein anderer deutscher Brauch hat in der Welt eine solche Verbreitung gefunden. Manche Menschen stellen auch eine Weihnachtskrippe unter den Tannenbaum. Das Ereignis von Bethlehem wird hier mit verschiedenen, oft kunstvoll gestalteten Figuren nachgestellt. In einem Stalle stehen ein Esel und ein Ochse, sowie Maria und Josef. Manchmal kann man auch die Hirten mit ihren Schafen sehen oder die drei Weisen aus dem Morgenland. In der Mitte steht ein Futtertrog, eine Krippe. Darin liegt eine kleine Puppe, die Jesus als Kind darstellen soll.
Weihnachtsbaum(© Liane / PIXELIO)
Weihnachtsbaum (© Liane / PIXELIO ) vergrößern
Der Abend vor dem Weihnachtstag ist der Heilige Abend (24.12.). Viele Menschen gehen an diesem Abend zum Gottesdienst in die Kirche. Dort singt man Lieder und hört die Weihnachtsgeschichte aus der Bibel. Manchmal spielen die Kinder auch ein "Krippenspiel", in dem die Weihnachtsgeschichte dargestellt wird, wie sie im Lukasevangelium steht. Manchmal treten auch die weisen Männer aus dem Orient auf, von denen der Evangelist Matthäus erzählt.
Nach dem Gottesdienst ist es Zeit für die Geschenke, die vorher unter den Weihnachtsbaum gelegt worden sind. Darauf haben sich alle gefreut, am meisten aber die Kinder. Manche Kinder haben vorher auch schon einen "Wunschzettel" geschrieben und ihn den Eltern gegeben. Ob sie nun auch die Dinge unter dem Weihnachtsbaum finden, die sie sich gewünscht haben?

Abgeschlossen wird der Heilige Abend oft mit einem gemeinsamen Essen, aber am Weihnachtstag (25.12.) geht das Feiern dann weiter. Die Hausfrauen machen etwas besonders Gutes zu essen, häufig Karpfen, Gans oder einen leckeren Braten und selbst gebackenen Kuchen. Zu diesem Fest kommt dann auch jeder aus der Familie, der auswärts wohnt und der eben kommen kann. Weihnachten ist ein Familienfest.

Die Advents- und Weihnachtszeit ist eine Zeit der Hoffnung. In dieser Zeit denken wir daran, daß Gott uns seine große Liebe gezeigt hat. So groß ist seine Liebe, daß sein einziger Sohn als kleines Kind in einem Stall zur Welt kam. Das war Gottes Geschenk an uns! Wir brauchen es nur anzunehmen. Und aus diesem Grund können wir Weihnachten feiern. Auch dann, wenn die äußeren Umstände nicht gut sind und wir eigentlich gar nicht feiern wollen. Jesus will jedem Hoffnung und Hilfe geben!

Ostereier in deutschland




Im April liegen bunte Eier in deutschen Gärten. Die hat ein Hase da hingelegt. Zumindest glauben deutsche Kinder das. Und aus irgendeinem Grund tun die Hasen das wohl deshalb, weil vor ungefähr 2000 Jahren in Jerusalem ein Mann gestorben und dann wieder auferstanden ist. Dann ist der Mann zum Himmel geflogen. Was diese Geschichte allerdings mit den Hasen und den Eiern zu tun hat, wissen die meisten Deutschen nicht so genau.

Die versteckten Eier werden dann von den Kindern gesucht. Manchmal finden die Kinder die Eier leider nicht und die Väter entdecken sie erst Monate später zufällig bei der Gartenarbeit. Das alles gehört zum deutschen Ostern. Ostern ist in Deutschland ein Fest, das heutzutage vor allem deshalb wichtig ist, weil man an diesen Tagen nicht arbeiten muss. Wann genau Ostern ist, hängt vom ersten Frühlingsmond ab. Ostern ist also, anders als Weihnachten, ein beweglicher Feiertag. Das heißt, das genaue Datum wissen die Deutschen erst, wenn sie es im Kalender nachgesehen haben.

Die Art, wie man in Deutschland Ostern feiert, zeigt sehr gut, wie verschiedene Traditionen und Bräuche an einem Tag zusammenkommen. Denn an Ostern feiert man zwar die Auferstehung Jesus Christi, doch die Art, wie man feiert, hat mit dem Christentum nicht immer etwas zu tun. Die Ostereier beispielsweise lassen sich kaum mit Jesus verbinden, jedenfalls steht in der Bibel nichts davon. Kein Wort steht in der Bibel darüber, dass Jesus während des letzten Abendmahls zusammen mit seinen Jüngern Eier bemalt und anschließend versteckt hätte. Dieser Brauch scheint eher aus einer alten germanischen Tradition zu kommen. Aber warum Hasen und Eier? Eine Möglichkeit wäre, dass Hasen und Eier ein Symbol der Fruchtbarkeit sind. Zu Ostern ist der Winter überstanden und der Frühling beginnt, das Leben erwacht, Blumen wachsen, Bauern bereiten ihre Felder, alles muss fruchtbar sein. Allerdings gibt es noch zahlreiche andere Interpretationen (vgl. http://de.wikipedia.org/wiki/Osterhase). Man kann jedenfalls sagen, dass man zu Ostern nicht nur an Jesus denkt, sondern auch den Frühling feiert.

Aber wie funktioniert Ostern nun in Deutschland? Das Osterfest beginnt nach christlicher Tradition mit dem sogenannten Aschermittwoch. Der Aschermittwoch ist 40 Tage vor dem eigentlichen Osterfest und bedeutet gleichzeitig das Ende des Karnevals. Vom Aschermittwoch bis zum Osterfest sind alle gläubigen Christen dazu aufgefordert, zu fasten. Sie sollen also wenig essen, keinen Alkohol trinken und vor allem viel über Gott und die Welt nachdenken, weil dies Jesus vor 2000 Jahre auch so getan hatte. Heutzutage jedenfalls halten sich nur noch sehr wenige Menschen daran. Vielleicht sind deshalb viele Deutsche heute so dick.


Mit dem Osterfest endet die Fastenzeit. Und das ist ein Glück, denn wie bei allen wichtigen Festen steht auch bei Ostern das Essen im Mittelpunkt. Es gibt verschiedene typische Speisen, vor allem süße Speisen. Typisch ist beispielsweise Kuchen in der Form eines Hasen oder eines Lammes. Das Lamm ist auch ein Symbol des Christentums. Kinder mögen es dabei besonders, dem Hasen die Ohren oder dem Lamm den Kopf abzubeißen. Die Eier aus dem Garten, die heute meist aus Schokolade sind, werden ebenfalls gegessen. Für Kinder ist der Brauch mit den Eiern auch deshalb besonders beliebt, weil sie in der Woche vor Ostern zusammen mit ihren Eltern oder in der Schule die Eier bemalen durften. Weitere typische Speisen zu Ostern sind Würste oder Schinken und Meerrettich.
Ostern besteht vor allem aus vier Tagen, dem Gründonnerstag, dem Karfreitag, dem Karsamstag und dem Ostersonntag. Am Gründonnerstag denken die Christen an das letzte Essen, das sogenannte letzte Abendmahl, das Jesus Christus zusammen mit seinen engsten Freunden, den sogenannten Jüngern, hatte. Danach wurde Jesus gekreuzigt, und daran denken die Christen am Karfreitag. Am Samstag sollen dann alle Christen ruhig sein, weil sie um Jesus trauern sollen. Am Sonntag sollen sie dann wieder denken, nämlich an die Auferstehung Jesu. Und weil das eine schöne Sache ist, sollen die Christen am Ostersonntag nicht nur denken, sondern auch feiern.
 
Heutzutage feiern die Deutschen Ostern vor allem in der Familie. Und da sehr viele Deutsche nicht mehr so richtig an das Christentum glauben, wird nicht mehr so viel an Jesus gedacht, sondern mehr an das Essen. Zwar gehen viele Deutsche an Ostern noch in die Kirche, aber das ist häufig nur eine Tradition ohne Inhalt.
 Viel wichtiger ist es, dass am Ostersonntag die Eltern die Eier im Garten verstecken. Natürlich versteckt in Wirklichkeit nicht der Hase die Eier und manche Kinder sind ein bisschen enttäuscht, wenn sie das herausfinden. Die Kinder suchen aber auch dann noch mit vollem Eifer und anschließend essen alle gemeinsam Kuchen und Wurst und Schinken. Das ist nicht zwar nicht christlich, aber schön




















Description: http://www.doppelpod.com/wp-content/uploads/2010/05/oei3.jpg


THIS IS FEATURED POST 1 TITLE

THIS IS FEATURED POST 1 TITLE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Quas molestias excepturi
THIS IS FEATURED POST 2 TITLE

THIS IS FEATURED POST 2 TITLE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Impedit quo minus id
THIS IS FEATURED POST 3 TITLE

THIS IS FEATURED POST 3 TITLE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Voluptates repudiandae kon
THIS IS FEATURED POST 4 TITLE

THIS IS FEATURED POST 4 TITLE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Mauris euismod rhoncus tortor